Home
Profil Selapa
Informasi Terkini
Majalah Selapa News
Koleksi Foto dan Video
Jurnal
Links
Kontak
Pencarian Data
Sindikasi
Navigasi: Home arrow Majalah Selapa News arrow Edisi #1 arrow Wawancara: Brigjen Pol Drs Budi Gunawan SH Msi
Wawancara: Brigjen Pol Drs Budi Gunawan SH Msi Buat halaman ini dlm format PDF Cetak halaman ini Kirim halaman ini ke teman via E-mail
Peringkat User: / 12
PoorBest 
Ditulis oleh Administrator   
Minggu, 01 Oktober 2006

Wawancara Dengan Brigjen Pol Drs Budi Gunawan SH MsiDibalik suskses yang diraih seorang atlit terkandung makna kemauan dan motivasi, kerja keras, disiplin tinggi. Brigjen Pol Drs Budi Gunawan SH Msi pernah menjadi atlet dan pernah keluar sebagai juara  menembak kala menjadi taruna Akademi Kepolisian.

Tak ada nomor dua dalam diri seorang atlet, sehingga standarnya adalah paripurna. Dan, prinsip ini pula yang tertanam dalam diri  kelahiran Solo ini. Dapat dilihat dari rekam jejak Budi, baik kala bertugas di operasioal, menjadi staf, dalam pendidikan bahkan ketika menjadi ajudan Wakil Presiden dan kemudian Ajudan Presiden, Budi menorehkan catatan tersendiri.

Dia menjadi Kapolsek terbaik di Polresta Bandarlampung, lalu selalu terbaik dalam pendidikan mulai dari Akpol, Sespim bahkan kala mengikuti pendidikan di Lemhannas. Dan implikasi dari kerja kerasnya, dia terdepan dalam meraih pangkat di kepolisian, bahkan dibanding sejumlah seniornya. Alumni Akpol tahun 1983.

Mantan Kepala Biro Pembinaan Karier Desumdaman Polri itu kini menjadi Kepala Sekolah Lanjutan Perwira. Dan, sebagaimana dijalani dimanapun ia bertugas, yaitu memberikan yang terbaik, bukan sekadar dihitung namun juga diperhitungkan, Budi pun mencanangkan perubahan di lembaga yang dipimpinnya itu. Yaitu memuwujudkan Selapa sebagai pusat keunggulan (Center of Excellence),  yang muaranya sebagai sebuah lembaga pendidikan bisa bersanding dengan lembaga pendidikan modern lainnya.

Tak mudah memang melakukan perubahan. Namun, semuanya bisa dijalani, kalau ada kemauan. Budi mencontohkan dirinya sendiri. Penulis buku "Kiat Sukses Polisi Masa Depan" menyatakan dirinya bisa lancar menulis karena keadaan. Sewaktu jadi ajudan dia harus menulis kata sambutan Wapres, yang kebetulan Ketua Umum PDIP.

"Saya punya pengalaman, waktu di Semarang, pada kongres PDI Perjuangan, jam sepuluh malam dapat perintah untuk menulis sambutan. Pagi sudah harus selesai. Saya bingung, mau minta bantuan siapa coba. Apa referensi yang bisa saya pakai. Saking bingungnya semalaman baru selesai."

Belajar dari pengalaman membuat Budi banyak membaca dan kemudian menuangkan ke dalam tulisan. Kini tulisannya berserak di banyak media, seperti GATRA, Media Indonesia, KOMPAS, Suara Pembaruan. Di Majalah FORUM dia rutin menuangkan pikiran sekali sepekan. Dan topiknya beragam. Dia juga menulis novel selain produk-produk profesional book dan tentang kepolisian.

Bagaimana sebenarnya perubahan yang dicanangkan Budi di Selapa? Majalah Selapa News mewawancarai Budi Gunawan di ruang kerjanya. Berikut petikannya:

Apa yang melatarbelakangi Anda melakukan perubahan di Selapa?
Setiap lembaga pendidikan itu mempunyai tolok ukur. Sekarang ini yang menjadi kadar bobotnya diukur dari tiga aspek. Pertama tampilan, artinya tampilan fisik sebagai sebuah lembaga pendidikan masyarakat akan melihat itu. Dia punya estetika sebagai  sebuah lembaga pendidikan, itu auranya sangat besar di situ. Kedua, tampilan dari aspek ilmiah. Kelompok ilmuan akan melihat sebuah lembaga pendidikan dari hasil karya ilmiah yang dikeluarkan. Itu ukurannya. Seperti  jurnal ilmiah, riset ilmiah, buletin, majalah, website, dan kegiatan keilmuan yang lainnya. Kelompok yang ketiga, di bidang teknologi. Kelompok ini melihat dari perkembangan  di bidang teknologi yang dimiliki oleh sebuah lembaga pendidikan, kacamatanya dari teknologi yang dipakai. Makanya di sini kita harus punya juga website, room conference, kemudian knowledge centre yang sedang kita buat ini. Semua muaranya ke arah itu. Sehingga kalau tiga aspek itu kita tingkatkan, Selapa ini akan setingkat bobotnya dengan universitas unggulan. Apalagi ini sesuai dengan kebijakan pimpinan Polri menjadikan Lembaga pendidikan Polri sebagai Center of Excelence. Center of Excelence  artinya sebagai pusat keunggulan, itu tujuannya. Semua  tentu ada kiat-kiatnya atau caranya untuk mencapai tiga hal tadi, kita di Selapa telah mencanangkan tekad 3Q.

Belajar dari Jepang dan dari Napoleon  Bonaparte, ada sesuatu yang bisa membangkitkan semangat, capital comitment sebuah institusi harus mempunyai ciri masing-masing sebagai penyemangat kebersamaan. Kenapa 3Q? Karena disini nuansanya lembaga pendidikan meliputi tiga aspek; kualitas pendidikan, kualitas operasional maupun kualitas kelulusan itu menjadi target, menjadi komitmen kita.

Apa yang dilakukan untuk mewujudkan itu?
Untuk ini bisa terwujud, dari awal kita harus meningkatkan kualitas Selapa. Ciri warna kualitas inilah menjadi brand Selapa sekarang, yang kita ambil dari budaya manajemen perobahan, secara tidak sadar juga seluruh personel maupun pasis di sini mulai mengadopsi manajemen mutu. Kemudian mulai menerapkan juga manajemen perubahan, teori-teori yang dikembangkan oleh John Kotter, teori-teori motivasi oleh Anthony Robin. Semuanya itu sudah dilakukan. Itu tanpa terasa nanti menjadi budaya. Kita juga sudah mulai menerapkan peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Di Jepang itu yang diterapkan sekarang dengan istilah kaizen

Tapi untuk menjadi budaya kualitas itu kan melalui suatu proses?
Kita awali dengan kegiatan proaktif, tidak lagi kegiatan rutin. Kemudian melakukan mana yang mungkin, yang proritas  dan yang bisa. Setelah itu ditularkan kepada orang lain. Yang terakhir menjadi budaya atau menjadi kebiasaan. 

Dari tiga parameter tadi, setelah Anda masuk ke sini belum satu pun yang mendukung?
Saat ini kita sedang mengarah ke situ semua.  Artinya kalau saudara lihat ada upaya kita yang dilaksanakan. Dari aspek fisik kita benahi dulu di depan. Kenapa depan? Karena depan itu etalase kita.  Selama ini orang mencari Selapa  cukup sulit. Jujur lebih ngetop Sepolwan daripada Selapa.Orang lebih tahu Lemdiklat daripada Selapa. Tapi nanti, dua bulan lagi akan terbalik. Target pembenahan di depan, itu adalah pencitraan Selapa sebagai sebuah Lemdik. Sebagai sebuah institusi lembaga pendidikan, orang menjadi tahu dan menjadi gunjingan dan mengenal Selapa. Orang akan mencari knowledge centre Selapa itu seperti apa? Dari mana-mana kelompok-kelompok keilmuan itu akan datang ke Selapa ini.

Sebagai Center of Excellence, idealnya seperti apa yang ingin diwujudkan itu?
Selapa mempunyai brand. Di depan itu knowledge centre, pusat communitas of Practise, tempat berkumpul, berbagi ilmu pengetahuan, pengalaman dan riset.   Di situ ada perpustakaan modern, ada website, ada  warung internet, ada book store, ada juga kafe, ada metting room, video cenference, room discusion dan executive room. Orang akan belajar secara nyaman. Artinya kalau dulu konsep buku itu menjadi barang mati karena tidak menarik untuk dibaca orang. Kemauan membaca itu menjadi berkurang, karena buku itu tidak dikemas menjadi menarik. Konsep itu kita balik. Buku kita buat menarik sehingga orang mencari. Banyak perpustakaan tidak menarik menjadi seperti  museum,  karena tidak dikelola secara benar.  Sekarang konsepnya buku mencari orang. Kita buat seperti itu.

Jadi nantinya tentu akan ada diskusi?
Ya, diskusi itu bisa orang datang secara langsung, kita siapkan discussion room, pasis juga menjadi berbaur dengan masyarakat dengan kelompok-kelompok akademis yang lain, misalnya mahasiswa, dari semua komponen. Bisa melalui website, bisa langsung datang, kemudian melalui komunitas-komunitas  sharing ilmu di situ.

Nanti kita buat jadwal, dan orang di situ ada suasana variatif, ada yang baca buku dengan tenang, kita akan sediakan silent room, ada tempat diskusi, atau ada yang baca sambil nonton. Setiap orang seleranya  masing-masing. Kita siapkan semua itu.  Dan itu terbuka untuk umum sampai malam.

Suasana pendidikan itu harus menyenangkan. Inti semua bagaimana membuat sharing ilmu, dan pengalaman. Kajian keilmuan kita siapkan Selapa News. Kalau majalah kita itu sekali dua bulan. Kalau jurnal itu setiap akhir pendidikan. Kita menampilkan hasil-hasil riset ilmiah yang dilakukan pasis,   taskap terbaik, pengalaman-pengalaman pasis, kemudian hasil penelitian pasis.

Bagaimana strategi Anda untuk mewujudkan semua itu?
Pembenahan pada sistem pendidikan dan kelembagaan. Manusia salah satu dari itu. Memang yang terpenting di sini motivasi. Paradigma  lama di lembaga pendidikan Polri secara umum kalau ditempatkan di Lemdik seperti warga negara kelas dua. Itu dulu. Tapi sejak Kapolri sekarang tidak begitu. Yang masuk di Lemdik harus orang-orang unggulan. Kemudian setelah dari sini promosi. Sekarang sudah mulai bergulir. Kemudian dari aspek kebijakan juga sudah, dari sisi pembinaan karier juga sudah seperti itu. Kita benahi kultur melalui pelatihan motivasi khusus terhadap gadik yang ada di sini.

Apa yang telah dilakukan?
Pertama melakukan pelatihan motivasi, dari NAC. Yang berikut pelatihan Gadik, yaitu kemampuan sebagai dosen atau pengajar. Untuk menghasilkan lulusan yang kompeten harus diawaki oleh Gadik yang kompeten, siklusnya begitu di mana-mana. Jadi Gadiknya dulu yang harus dibenahi, menjadi Gadik yang kompeten, artinya gadik  yang unggulan. Kita sudah lakukan.

Seperti pelatihan gadik, kita ambil pembelajarannya dari luar, yang stratanya unggulan, jenis pelatihannya kita pilih dan kita terapkan. Dari situ kita kembangkan model-model brand nya Selapa. Kita membuat beberapa model pedoman,  kalau di luar, itu model-model yang dimiliki pendidikan Strata S-2 dan S-3. Begitulah  model-model yang kita adop untuk Selapa. Sehingga nanti dosen Selapa kalau mau mengajar di S-2, S-3 atau mau kuliah lagi, mereka sudah terbiasa dengan  yang berlaku di dunia S-2 atau S-3. Nantinya Selapa akan kompetitif karena model-model yang dimiliki setara dengan itu.

Dari berbagai hal itu, apa yang prioritas untuk dibenahi?
Yang terpenting pertama memang sistemnya dulu. Sistem pendidikannya kita benahi, dengan mengadopsi manajemen pendidikan mutakhir. Kemudian lembaganya. Sekarang kita isi manusianya dengan kemampuan tingkat tertentu, motivasi juga sudah, fisik jalan, pembangunan IT jalan. Tinggal ritmenya harus bisa dipertahankan. Ibarat orang lari, ini  lari marathon. Endurence dan ritme harus dijaga betul.

Katanya kebanggaan terhadap suatu lembaga itu penting. Apa yang bisa kita jadikan kebanggaan itu di sini?
Semangat kebanggaan terhadap Selapa menjadi begitu penting. Kita belajar dari Napoleon Bonaparte bagaimana seni dia membangkitkan semangat anak buahnya. Bagaimana memberi motivasi itu. Kalau Napoleon mottonya esprit de corp, dan menjadi cikal bakal korps tentara dan polisi. Dengan simbol-simbol kesamaan itu kita ambil dalam bentuk pin. Dari Jepang kita ambil komitmen mereka melalui slogan-slogan, dengan semangat tekad 3-Q sebagai slogan, Budaya peduli akan kualitas, dan peningkatan kualitas secara berkelanjutan. Di setiap apel, setiap pengarahan dan sambutan, selalu kita dengungkan terus. Tapi oke lah, kelihatan semuanya happy juga.

Ada yang membatasi Anda dalam melakukan perobahan itu?
Kalau kendala pasti ada. SDM background-nya bermacam-macam. Jadi pemahamannya bermacam-macam. Yang kedua, sumber daya anggaran terbatas, kita coba secara swadaya.

Masalah dana bagaimana solusinya?
Harus disadari bahwa tugas di Lemdik itu adalah tugas yang mulia, tugas yang luhur. jadi di situ lah kesempatan kita untuk beribadah. Sepanjang tidak ada keikhlasan untuk itu, ya berat. Kalau dana, ya kita swadaya. Tidak ada suatu perubahan yang baik kalau tidak didukung dengan dana yang memadai. Tapi yang terpenting dari itu adalah kemauan. Kalau para ahli bilang, bahwa perubahan itu, kuncinya bukan terletak pada kekuatan atau pengetahuan, tapi pada kemauan.

Gaya-gaya perubahan seseorang, antara lain satu karena dibayar, atau insentif. Itu tidak abadi, artinya kalau duit berhenti maka berhenti juga. Dua, karena diperintah, takut ada sanksi. Top down, dan yang ketiga karena ada kesadaran dari dalam diri seseorang. Yang terakhir itu lah yang kita mau tumbuhkan.

Bagaimana dengan perubahan kurikulum?
Bulan September ini kita akan mengadakan riset kurikulum. Kepada para stakeholder termasuk masyarakat. Nantinya akan diketahui apa yang mereka mau dari lulusan Selapa ini. Itu akan kita terapkan melalui perbaikan kurikulum, artinya kita sesuaikan dengan  kemauan usernya. Kemudian pengajar. Pengajar ya memang tidak bisa bertahan seperti ini. Obsesi saya, bahwa tiap mata pelajaran itu dosennya harus dua. Satu dosen luar yang berkualitas, dan kedua dari Polri. Dosen luar memberikan wawasan tentang keilmuan, dosen Polri tentang implementasinya dalam tugas-tugas Polri. Kalau itu bisa jalan, maka dijamin adanya peningkatan kualitas lulusan Selapa.

Yang kita lakukan sekarang?
Sementara ini langkah-langkah terobosan yang dilakukan dengan nyata . Seperti materi ajaran lebih banyak pada diskusi kasus. Yang disampaikan dengan metode CBSA, studi kasus, diwajibkan untuk ditulis, nantinya dihimpun menjadi buku.

Yang kedua, action plan. Pada akhirnya setiap orang yang sekolah itu,  harus tahu apa yang dia akan perbuat setelah itu. Artinya dengan ilmu yang dia peroleh, dia gunakan untuk apa. Itu baru bermakna sekolahnya. Untuk melatih itu dia harus membuat action plan. Misalnya materi kuliah A, dia wajib membuat satu action plan, dan dibukukan. Dia tahu untuk apa dia belajar itu. Jangan hanya sekedar belajar. Kalau  hanya belajar hanya sekedar informasi. Kita menginginkan bagaimana dia menjadi mahir. Dengan ilmu yang dipelajarinya itu dia bisa melakukan sesuatu.

Standar kelulusan bagaimana. Ada perubahan?
Kalau selama ini tidak lulus disebabkan karena sakit atau karena moral. Sedangkan dari segi akademis tidak pernah menjadi sebab tidak lulus. Sekarang tidak lagi. Artinya tidak lulus bukan hanya karena moral atau kesehatan saja. Kalau akademis memble, ya nggak lulus. Sekarang mulai diterapkan. Apalagi skripsi (Taskap, red) dulu didongkrak-dongkrak untuk lulus. Sekarang nggak ada cerita.

Berani untuk tidak meluluskan?
Pilihannya harus berani. Kita sudah canangkan 3-Q, salah satunya kualitas kelulusan. Kalau tidak lulus mata pelajaran, kasih her satu kali. Kalau masih tidak lulus ya sudah. Kalau nilainya jelek, masa mau diluluskan.

Waskat tentang penilaian bagaimana?
Makanya sistem penilaian kita evaluasi dan robah. Ada nilai tulis, dinilai oleh sekian orang tanpa diketahui siapa menilai siapa. Terakhir nilai saji, paparan. Kalau kita bicara kualitas kelulusan, maka parameter kelulusan itu juga harus meningkat. Misalnya sekarang nilai 70 lulus, untuk periode berikut harus naik lagi parameternya.(*)

Terakhir kali diperbaharui ( Minggu, 01 Oktober 2006 )
 
< Sebelumnya   Selanjutnya >